Tuesday, September 4, 2012

Diary Untuk Ayah



Hari mulai petang, awan yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Tak ada lagi sinar mentari di langit yang ada hanya cahaya-cahaya kecil dari bintang yang bertaburan di langit petang.

Saat itu, aku tidak merasakan ngantuk sama sekali. Akhirnya aku mantapkan kakiku melangkah ke luar rumah duduk termenung sendrian menatap bintang. Sampai pada akhirnya, aku tertuju kepada satu bintang yang cahayanya paling terang. Dan saat itu juga aku teringat kepada seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kebetulan hari ini, tanggal 21 juli, tepat saat aku kehilangan seseorang yang berarti itu.

***

12 tahun lalu, aku mengalami peristiwa yang hebat, tepatnya pada tangal 21 Juli 1999. Pada tangal itu, aku dan keluarga pergi ke pernikahan salah satu keluarga kami. semua keluargaku sudah sibuk menyiapkan semuanya sehari sebelumnya. Menyiapkan baju dan gaun yang akan dipakai, makanan serta seserahan untuk calon pengantin. Aku sendiri sudah membeli baju baru untuk digunakan di pernikahan tersebut. Setelah semua siap, pagi-pagi sekali kita berangkat ke daerah Jombang, tempat saudaraku merayakan pesta pernikahannya. Aku naik mobil sama ayah, ibu, dan adik kecilku. Aku duduk di pangkuan ayahku, sedangkan adik berada digendongan ibuku, maklum adik masih usia 8 bulan. Sebenarnya kami akan naik mobil yang satunya, mobil teman ibu. Tapi karena mobilnya belum datang, aku memaksa ibu dan ayah untuk naik mobil yang sekarang sedang aku tumpangi. Di sepanjang perjalanan, ayah selalu mencetuskan lelucon-lelucon yang membuat aku tertawa. Ayah dan aku juga menyanyi lagu anak-anak seusiaku.

“naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali”

Tawa canda terus terdengar dariku dan ayah, sampai kemudian peristiwa itu terjadi. Sebuah bus besar mendahului mobilku dengan kencang, sementara di lajur yang berbeda ada sebuah tuck yang melaju kencang pula. Lalu bus tersebut tidak bisa mendahului mobilku dan malah menabrak mobilku sampai mobilku masuk ke sungai. Ggerrr…. Ccciiitttzz….. BBBrakkkk…. BBrakkkk…. BBBrakkkk….. duuuaazzz…… . Mobilku masuk kesungai, tapi aku dan ayahku terlempar keluar lewat jendala, dan kami masuk ke sawah di arah yang berlawanan dari sungai. Saat terlempar, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya merasakan pelukan hangat seseorang dan dekapanan kuat yang mencoba untuk melindungiku. Setelah masuk ke sawah, aku terlepas dari pelukan dan dekapan penuh sayang itu. Yaahh… aku terlepas dari dekapan ayahku. Dan melihat ayahku berada di sampingku sedang tak sadarkan diri. Disitu aku bingung harus berbuat apa, sementara tidak ada satupun orang disana. Hanya aku dan ayahku yang berada di tengah sawah tersebut. Aku mencoba untuk menyadarkan ayah, menepuk-nepuk kedua bahunya sambil menangis dan berkata,

“ayah… ayah… bangun yah…”

“ bangun… tolong yah… ayah harus bangun….”


“ Yah… bangun yah…”



Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi hasilnya tetap nihil. Ayah tidak bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis sambil terus menyebut namanya, dan berharap ayah bisa bangun.

***



Tak lama kemudian, mobil yang lain dari keluargaku datang. Mereka semua menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Terdengar juga saudara sepupuku menangis kencang sambil meneriakkan namaku. Berharap tidak terjadi apa-apa denganku. Kemudian kami segera ditolong dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit aku diperiksa, dan dokter berbicara dengan tanteku tentang hasil pemeriksaanku.

“Dok bagaimana keadaan ponakan saya?”

“tidak ada yang terlalu parah bu, hanya saja tangan kanannya patah”

“astaghfirulloh, lalukan saja yang terbaik dok,,”

“pasti bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan ponakan ibu”

“terima kasih dok”

“sama-sama bu, itu memang sudah jadi tugas kami”



Ya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau tangan kananku patah. Selain itu di tempat yang berbeda, ayah masih tidak sadarkan diri dan masih berada di ruang UGD. Ayah masih diperiksa keadaannya oleh dokter. Selang beberapa waktu, dokter yang tadi memeriksa ayah keluar, dan segera menginformasikan keadaan ayah kepada saudaraku.

“ bagaimana keadaannya dok?”

“maaf pak, kami sudah melakukkannya semaksimal mungkin” , dokter tersebut berkata dengan wajah pasrah.

“maksud dokter?”

“korban sudah tidak bisa ditolong lagi”

“innalillahi wainnailaihi rojiun”

Semua anggota keluargaku tidak percaya, kalau ayahku pergi secepat itu. Padahal ayah masih harus menjaga aku dan adikku yang masih kecil.

***



Di ruang anak ibu masih menggendong dan menyusui adik. Ibu tidak mengalami luka yang cukup serius. Ibu hanya luka memar di bagian wajah karena terbentur pintu mobil. Sedangkan adikku tidak luka sedikitpun. Ia selamat dalam keadaan baik seperti tidak ikut dalam peristiwa itu. Setelah cukup lama menyusui adik, ibu ingin ke ruangan ayah. Tapi dokter terus menghalangi ibu.

“ibu mau kemana?”

“saya mau melihat suami saya bentar dok,”

“jangan dulu bu, ibu harus menjaga bayi ibu dulu disini”

“tapi dok, saya ingin melihat suami saya sebentar, sebentar saja dok…”

“jangan bu, disusui dulu aja anaknya”

Melihat dokter yang seakan-akan menghalangi langkahnya untuk menemui ayah, ibu semakin cemas. Dari tadi ibu memang sudah mendapat firasat yang buruk. Takut terjadi apa-apa dengan ayah. Setelah dokter tersebut pergi memeriksa pasien lain, ibu langsung memantapkan langkahnya ke ruangan tempat ayah diperiksa tadi. Sesampainya di depan ruangan tersebut, ibu mendapati saudara- saudaranya menangis mengisakkan air mata. Ibu langsung menangis dan bertanya ke saudaranya.

“ada apa?? Mengapa kalian semua menangis? Mana suami saya? Suami saya baik-baik saja kan??”

“tenang… tenang…. Duduk dulu”

“enggak, saya mau lihat suami saya”

“suami kamu sudah tiba ajalnya”

“nggak…. Nggak mungkin…. Itu nggak mungkin terjadi….”

“yang sabar ya, ikhlas… kasihan suamimu kalau kamu seperti ini”

Semua orang berusaha menenangkan ibu. Ibu terus meneteskan air mata, seakan tidak percaya atas kepergian ayah yang terlalu singkat. Untunglah keluargaku berhasil menenangkan ibu.

***



Setelah semua administrasi beres, aku pulang bersama ibu dan adik. Aku sempat bertanya kepada ibu.

“bu, ayah mana? Kok nggak ikut pulang?”

“ayah masih harus di rumah sakit nak, ayah masih sakit”

“tapi aku ingin sama ayah bu…”

“ besok kalau ayah sembuh, ayah pasti pulang”

“benar ya, bu….”

“iya nak…”

Ya, saat itu semua orang memang merahasiakan kepergian ayah dariku. Takut kalau aku tidak bisa menerima kepergian ayah. Semua keluargaku memang tau, aku dan ayah seperti soulmate, dimana ada ayah pasti aku juga ada bersamanya. Aku memang anak kesayangan ayah. Ayah selalu mengutamakan kebahagiaanku. Ibu aja pernah dimarahin oleh ayah, karena ibu mencubit aku. Tapi bukan salah ibu juga sih, aku memang bandel.hehehe… .

Setelah sampai di depan rumah, aku mendapati rumahku sesak dari gerumelan orang. Tetanggaku berkumpul di rumah. Memangnya ada apa? Aku baertanya dalam hati. Tapi kemudian, aku dibawa ke rumah saudaraku,yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Ternyata aku memang sengaja disembunyikan dari ayah. Tidak lama setelah aku pergi, mobil ambulance datang mengantarkan ayah ke rumah. Semua tetanggaku sibuk, ayah langsung diangkat ke dalam, dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. Setelah ayah dikuburkan, barulah aku dibawa pulang kerumah.

***



Hari berganti hari, aku menjalani hidupku seperti anak kecil pada umumnya. Bermain, tertawa, bercanda. Smpai suatu hari aku bertanya kepada ibu.

“bu, ayah kapan pulang? Aku kangen sama ayah bu,”

“ayah masih sakit nak, ayah masih harus di rumah sakit”

“tapi kapan ayah pulang bu?”

“kalau ayah sudah saembuh, ayah pasti langsung pulang”



Saat itu aku memang percaya dengan apa yang ibu katakan. Maklum, aku masih kecil, belum tahu mana yang bohong mana yang jujur. Aku menganggap semua yang dikatakan ibu itu memang suatu kejujuran.

Ibu mempunyai inisiatif lain. Supaya aku gag terus-terusan bertanya tentang keberadaan ayah, aku dimasukkan ibu ke taman kanak-kanak (TK), ya walaupun usiaku masih 3,5 tahun. Ibu berharap setelah aku di TK, aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain dan bisa lupa tentang ayah. Memang setelah berada di TK, aku selalu mengisi hari-hariku dengan kesibukan di sana. Bermain, bergurau bersama teman-temanku. Walaupun terkadang ada temanku yang meledek aku, karena mereka menganggap aku tidak punya ayah.

“ hahaha…. Kamu nggak punya ayah ya?”

“siapa bilang, ayah aku masih di rumah sakit, ayah masih sakit”

“bohong, kamu nggak punya ayah”

“aku punya ayah,”

“mana buktinya? Ayah kamu kok nggak pulang?”

“ayah pulang kalau ayah sudah sembuh”

“bohong…. Bohong…. Kamu nggak punya yah”

“ngak punya ayah…. Nggak punya ayah….”



Celotehan temanku itu sering kali membuat aku menagis dan langsung pulang. Jarak rumah dengan TK memang cukup dekat. Sesampainya di rumah, aku langsung bercerita kepada ibu. Aku memaksa ibu untuk menyuruh ayah pulang. Tapi ibu tidak menjawab, dan hanya menangis.

***



4 tahun kemudian, aku duduk di bangku SD kelas 2. Hari ini adalah hari terakhir aku bebas makan pagi, siang, sore, malam. Karena besok aku harus puasa. Ya, besok memasuki hari pertama bulan ramadhan. Sore nanti ibu mengajakku ke makam, katanya mau ngasih bunga-bunga disana. Sore tiba, aku dan ibu pergi ke makam, adik tidak ikut karena masih terlalu kecil. Sesampainya di makam, aku dan ibu berhenti di sebuah nisan bertuliskan nama dan tanggal orang tersebut meninggal. HERI SUPRAPTIONO, 21 JULI 1999, aku membaca tulisan di nisan itu. Saat itu aku memang sudah bisa membaca, kan udah kelas 2 SD. Setelah membaca tulisan itu, aku tidak asing dengan namanya. Aku seakan kenal dan tahu dekat tentang nama itu. Kemudian aku sadar bahwa itu adalah nama ayah. Aku bertanya hal itu kepada ibu tapi ibu tidak menjawab.

Kemudian kami pulang, setelah tiba di rumah, aku menanyakan hal itu lagi kepada ibu.

“buk, kenapa di makam tadi ada nama ayah?”, “makam kan tempat orang yang sudah meninggal?”

“iya nak, itu memang nama ayah”

“kenapa nama ayah ada disana?, ayahkan belum meninggal bu?”

“ayah kamu memang sudah meningla nak,”

“tapi kata ibu, ayah masih di rumah sakit?”

“ayah sudah meninggal nak”

Mendengar hal itu , aku seakan tidak percaya. Aku menangis dan marah sama ibu, karena ibu tidak jujur sama aku kalau ayah sudah meningal. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima itu semua. Mungkin ibu melakukan itu demi kebaikanku. Ibu menganggap dulu aku tidak akan siap dengan semuanya dan sekaranglah waktu yang ibu anggap aku siap mendengarkan semuanya.

***



Setelah kejadian itu, setiap tangal 21 Juli, aku selalu keluar menatap bintang. Aku menganggap bintang itu ayah, dan ayah akan selalu memancarkan cahayanya untukku walaupun ayah tidak lagi bersamaku. Tapi perasaan kangen dan rindu selalu ada dibenakku. Untuk mengungkapkan itu semua, biasanya aku mengungkapkan semua perasaanku itu di diary untuk ayah.

Diary untuk ayah:

“ ayah, sudah 12 tahun ayah pergi ninggalin aku. Mungkin ayah pergi karena kesalahanku. Seandainya dulu ayah tidak mendekap dan melindungi aku, mungkin ayah sekarang masih bisa hidup, walaupun aku yang harus pergi karena tidak terlindungi oleh ayah. Ayah tau ngak, kalau selama ini aku kannnggggeeeennnn banget sama ayah. Yah, sudah ribuan bahkan jutaan air mata ini menetes menangisi kepergian ayah, karena jujur yah, aku belum rela kalau ayah pergi meninggalakanku secepat ini. Ayah pergi ninggalian aku saat akau masih 3,5 tahun.ayah tahu kan, umur-umur segitu, seorang anak sangat membutuhan kasih sayang dari orang tuanya yang lebih. Tapi aku, aku tidak bisa mendapatka itu semua, walaupun masih ada ibu, ibu masih harus tetap menjaga adik. Adik butuh kasih saying lebih dari ibu daripada aku.

Ayah, sekarang aku sudah remaja. Aku ingi hidup normal seperti remaja lainnya. Saat remaja lain berbahagia dengan ayahnya. Pernah yah suatu hari, di kelas teman-teman bercerita tentang ayahnya. Ayahnya yang pernah mebelikannya ini itu, ayahnya yang pernah memeberi kado saat ultahnya, ayahnya yang selalu mencium pipinya saat akan pergi sekolah, ayahnya yang selalu mengajak jalan-jalan setiap hari minggu, ayahnya ynag pinter memasak, ayahnya yang pinter melawak, atau apapun. Mereka semua berlomba menceritakan kebaikan ayahnya masing-masing. Tapi aku?? Aku hanya diam membisu, aku bingung apa yang harus aku ceritakan ke mereka tentang ayah. Aku ingin bisa manceritakan ayah ke mereka. Aku ingin bilang ke mereka bahwa hanya ayahku, ayah yang terbaik. Tapi aku nggak bisa yah, karena ayah udah tiada. Ayah, saat-saat seperti itu, aku merasakan sakit yang begitu besar, luka yang begitu perih, aku merasa hidupku sudah tidak berarti lagi tanpa ayah disini. Aku ingin ayah kembali, disini, disampingku, dan nggak akan pergi lagi.

Terkadang aku bertanya pada Tuhan, mengapa dulu aku nggak ikut pergi sama ayah? Mengapa ayah pergi sendiri? Apa gunanya aku disini tanpa kehadiran ayah?. Tapi saat itu juga, aku sadar. Aku sadar kalau Tuhan masih sayang sama aku. Tuhan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya dunia. Walaupun keindahan itu maya, karena hanya ayahlah satu-satunya sumber keindahanku. Dan aku berfikir, mungkin ini cobaan untukku, cobaan yang diberikan oleh Tuhan. Karena Tuhan tahu aku kuat dan tegar menjalani cobaan ini.

Dan yang terakhir untuk ayah, sebelum aku menghentikan goresan pena di buku diary ini, ayah, terima kasih selama ayah hidup, ayah sudah buat aku bahagia, ayah sudah buat aku tersenyum dan tertawa, terima kasih buat waktunya, terima kasih buat semuanya. Dan asal ayah tahu aku nggak akan pernah lupa tentang kenangan bersama ayah. Aku selalu sayang sama ayah, selamanya…… ”

Kini diary untuk ayah akan aku simpan dan akan slalu menjadi semangat serta motivasiku untuk menjalani kehidupakanku selanjutnya. Diary ini adalah kekuatan hidupku.

****

Kayak nya itu aja dari sebuah Cerpen Kasih Sayang : Diary Untuk Ayah moga kalian suka dengan cerpen ini dan selalu tunggu ya cerpen apdetan dari aneka remaja dari kiriman teman teman kalian yang akan di publish disini dan buat teman teman yang hobi bikin cerpen dan puisi bisa kirim kan karya kalian di email admin ya yang banyak gpp hehe

No comments:

Post a Comment