Tuesday, September 4, 2012

HINGGA AKHIRNYA

Karya Titi Dwie Hayati
Aku tak tau kenapa aku bisa menyukainya, menyayanginya, bahkan mungkin aku tlah mencintai nya. Tapi, aku tak yakin kalau dia pun merasakan hal yang sama sepertiku kepadanya. Setiap ku memandangnya hatiku berbunga, setiap ku di dekatnya jantungku berdebar. Seperti saat ini, hatiku serasa berbunga-bunga karena sedari tadi aku memandang nya. Memandang dia dari sudut kantin sekolah.
“heii, sedang apa kau ? memandang dia lagi ?” tiba-tiba Luna sahabatku mengagetkan ku. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Luna.
“sampai kapan kau hanya memandangnya terus ? katakanlah, bahwa kau menyukainya. Hehe” sambung & saran Luna
“tak mungkin, aku ini kan cewe. Masa aku yang menyatakan lebih dulu ?” jawabku mengalihkan pandangan pada Luna
“tak ada larangan kalo cewe menyatakan perasaan nya pada cowo. Terus, sampai kapan kamu akan memendam perasaan mu dan menunggu Adit ?” jawab Luna mulai gemas.
“yaa, sampai dia menyatakan cinta padaku. Hahaha “ jawabku meninggalkan Luna
“heii, Tiwi tunggu aku . dasar kamu !” teriak luna mengejarku yang hampir jauh
“aaw” aku bertabrakan dengan seseorang hingga aku terjatuh
“eeh, maaf aku tak sengaja. Sini biar aku bantu. Kamu ga apa-apa kan ? ada yang luka ? biar aku bawa kau

Namaku Sudah Mati

          
Gubrakk!!!
Suamiku membanting pintu gubuk. Hampir saja pintunya copot. Kemudian ia pergi, lari entah kemana. Aku tahu dia sakit hati. aku mengerti kekecewaanya terhadapku. Tapi ini adalah pilihan. Aku sudah bosan hidup seperti ini terus. Mengais- ngais rezeki yang terus- terusan nihil. Tanpa ada hasil jelas.
              Evi―anakku yang masih berumur enam tahun, menangis disudut tempat tidur busuknya. Merapatkan kaki kedada, mengisak- isak tangis minta dikasihani. Kututup pintu rapat- rapat. Kemudian tanpa memperdulikan anak semata wayangku, aku mengambil tas besar yang aku guris dari tong sampah rumah orang kaya beberapa bulan lalu. kelihatannya masih bagus, hanya resletingnya saja yang rusak. Dan aku sudah menjahitnya hingga tampak layak pakai lagi.
              “Mau kemana, Ma? Tanya Evi sambil mengusap- usap air matanya. Membentuk garis liku- liku di pipi kotornya. Rambut panjangnya tak terkucir rapi seperti tadi pagi.
              Aku membuka lemari yang hampir ambruk. Aku harus pelan- pelan mengambil beberapa baju yang ada disitu, atau lemari itu bisa saja menimpaku seperti kejadian seminggu yang lalu. Aku sudah minta Firman untuk memperbaikinya, tapi dia malah terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang tak jelas di TPS.
              Mama mau pergi!” Jawabku singkat. Evi mendekatiku, menarik- narik rokku hampir terlepas.
              “Evi ikut sama mama. Evi gak mau ditinggal sedirian.
              Lantas aku tersenyum. Membungkukkan badan seraya memegang bahu mungil anakku.
              “Kalau gitu, bantuin mama masukin bajumu kedalam tas, ya?” Diapun bergegas mengambil baju- bajunya kemudian ikut menyusunnya ke dalam tas. Anak perempuan berumur empat tahun itu lugas sekali. Sangat semangat untuk ikut bersamaku. Meskipun ia belum tahu, kemana tujuanku sebenarnya.
Setelah semuanya beres, aku dan Evi keluar dari dalam gubuk bau ini. Merayap ke tengah kota guna mencari sesuatu yang sempat hilang dari kehidupanku dulu.